Setetes tinta yang ingin dikenang. Karena dengan tinta kau mengenal dunia. Karena dengan tinta pula, kau dikenal dunia.

February 18, 2012

Auntum in Paris

Jalan sepi.
Langit gelap.
Angin musim gugur bertiup kencang.
Ia merapatkan jaket yang dikenakannya, namun tubuhnya tetap saja menggigil. Bukan karena angin, karena saat ini ia sama sekali tidak bisa merasakan apa pun. Seperti saraf-sarafnya sudah tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa merasakan apa-apa.
...



Sepenggal prolog untuk novel ke dua dari tetralogi musi karya Ilana Tan.
Kisah yang dimulai dari bertemunya dua orang yang asing di Paris.

Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugurnya.
Dan
Tatsuya Fujisawa membenci Paris dan musim gugur.

Mereka bertemu kemudian berteman. Tatsuya memiliki sisi yang tidak asing bagi Tara, tapi ia tidak mengetahui jawabannya. Sampai suatu hari di acara ulang tahun Elise, Tara mengenalkan Tatsuya Fujisawa pada Ayahnya dan dimulailah jawaban tentang sisi Tatsuya yang lain.

Novel karya Ilana Tan sangat menjiwai setiap karakternya, pembaca dibawa berimaginasi tentang latar belakang cerita dan penokohannya. Tentang rasa bahagia juga sedih. Salah satu dari 4 Novel Musim karya Ilana Tan yang membuat setiap pembaca menahan air mata.

Kesedihan yang dirasakan Tara Dupont begitu natural.


...
Saat itu Tatsuya punya banyak permohonan yang ia tahu tidak akan bisa terkabul. Kenyataan tidak akan bisa diubah. Tetapi ketika memandang Tara dan melihatnya tersenyum, ia tahu apa yang diinginkannya.
Sekarang ini ia hanya punya satu keinginan di atas segalanya. 
Satu permohonan.
Ia ingin Tara Dupont selalu bahagia. Walaupun itu berarti ia harus menerahkan seluruh hidupnya. 
...


0 komentar:

Post a Comment

Pages

© Tinta Sederhana Yang Dikenang, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena